6 Kriteria Muslim yang Beruntung Menurut Al Quran


Keberuntungan memiliki definisi yang begitu luas. Ada yang menganggap keberuntungan adalah orang yang memiliki harta yang banyak, rumah mewah lagi megah, mendapat harta warisan yang banyak, dapat undian dan kaya mendadak. Kebanyakan, keberuntungan memang dikaitkan dengan memperoleh kebaikan material secara tiba-tiba.

Namun bagi seorang muslim, keberuntungan tidak hanya mendapat kebaikan dunia, melainkan juga selamat di akhirat.

Maka, muslim yang beruntung tidak hanya muslim yang menjalani perintah fardhu Allah Ta’ala, menjauhi yang Allah larang, hingga istiqamah dalam menjalankan ibadah-ibadah sunnah yang telah diteladankan Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasallam.

Tapi juga hingga mencakup amalan yang dilakukan sehari-hari. Mulai dari menjaga diri dari maksiat, bersosialisasi dengan teman dan tetangga, menjaga ucapan, hingga peduli dengan sesama. Muslim yang dapat menjaga dirinya ini juga termasuk muslim yang beruntung.

Secara terperinci, Allah menyebutkan ciri-ciri muslim yang beruntung dalam Al Qurang. Berikut kriteria yang Allah maksud sebagai Muslim yang Beruntung;

1. Khusyu’ dalam shalatnya
Muslim yang khusyu dalam shalatnya adalah mereka yang menegakkan shalat dengan ketundukan hati, membaca bacaan shalat dengan baik, memahami dan meresapi maknanya serta mematuhi semua rukun shalat dengan baik dan benar hingga dapat merasakan kehadiran Allah dalam shalatnya.

Maka untuk menjadi mukmin yang beruntung, standar ibadah shalat yang harus kita penuhi tentunya adalah shalat yang dikerjakan dengan khusyu dan sepenuh hati.

2. Menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
Tak sedikit orang yang dilalaikan dengan adanya waktu luang. Yang berakhir menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tak berguna, yang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya kesia-siaan belaka.

Maka yang dilakukan mengubah kebiasaan tersebut dan mulai menggunakan waktu secara produktif. Baik itu untuk berkarya atau dengan mendekatkan diri kepada Allah lewat amal ibadah dan bibir yang senantiasa basah oleh ucapan zikir.

3. Menunaikan zakat
Rezeki yang Allah turunkan bukanlah sepenuhnya milik kita. Pun di dalamnya turut disertakan rezeki milik orang lain yang harus kita keluarkan melalui zakat.

4. Menjaga kemaluannya, kecuali kepada pasangan halal mereka
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az Zuhaili dalam tafsir al Wajiz menjelaskan, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluanya,’ dari praktik pezinaan. Termasuk bagian kesempurnaan pemeliharaan kemaluan adalah menjauhi perkara-perkara yang menuntun kepada perzinaan. Misalnya, memandang dan menyentuh (yang bukan mahramnya) dan tindakan lain yang serupa. Maka, mereka telah memelihara kemaluan mereka dari setiap orang.”

5. Memelihara amanah dan janjinya
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa mengingatkan umatnya untuk teguh memegang amanah dan janji. Hal ini jugalah yang telah dicontohkan Rasulullah dengan keagungan kepribadiannya yang digelar Al Amin. Begitu pentingnya amanah dan janji sehingga orang yang tidak bisa memegangnya digolongkan sebagai orang munafik.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR Bukhari Muslim)

6. Memelihara shalatnya
Memelihara shalat tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban semata, tetapi juga menjalankannya di awal waktu dan tepat aturan, serta mengerjakannya sebaik mungkin seolah-olah shalat itu adalah shalatnya yang terakhir.

Hal ini ditegaskan pula oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabda beliau, “Amal yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, maka jika shalatnya baik, berbahagialah dia, dan jika shalatnya rusak, rugilah dia dan sia-sialah usahanya.” (HR Thabrani)

Dan bagi orang-orang yang beruntung inilah, Allah mengganjar kesabaran mereka dengan surga Firdaus dan kekal di dalamnya (QS Al Mu’minun: 1-11)

Source: dbs
#sinergifoundation

Komentar